oleh

Polisi Tangkap Penanam Modal Dua Pabrik Obat Keras Ilegal di Yogyakarta

Direktorat Tindak Pidana Narkoba Bareskrim Polri menangkap penanam modal dua pabrik obat keras ilegal di Yogyakarta. Termasuk, penghubung antara pemodal dengan pemilik pabrik.

Direktur Tindak Pidana Narkoba Bareskrim Polri Brigjen Pol Krisno Halomoan Siregar mengatakan, pemodal berinisial S ditangkap pada Jumat (1/10/2021) kemarin. Dia merupakan pihak yang paling banyak menerima keuntungan hasil produksi dan penjualan dari pabrik obat ilegal itu.

“Kami telah menangkap pemodalnya berinisial S alias C,” ujar Krisno, Selasa (5/10/2010).

Dikatakan Krisno, polisi juga telah menangkap tersangka EY yang merupakan pihak penyambung antara pemodal dengan pemilik pabrik atas nama Joko Slamet Riyadi yang telah ditangkap sebelumnya bersama 14 orang lainnya. Saat ini, total tersangka yang telah ditangkap berjumlah 17 orang.

Baca Juga  Letkol Budi Iryanto Memberi Wejangan Kepada Peserta JBS

“EY yang merupakan pengendali dan yang berkomunikasi intens dengan Joko selaku pemilik pabrik juga telah ditangkap,” ungkapnya.

Krisno menyampaikan, Direktorat Tindak Pidana Narkoba Bareskrim Polri telah membentuk dua tim dalam menangani perkara ini. Tim pertama bertugas menuntaskan perkara pidana pokok, dan tim kedua menelusuri dugaan tindak pidana pencucian uang (TPPU).

“Jadi arahnya memang ke sana (TPPU) dan masih dalam proses pendalaman,” katanya.

Diketahui, Direktorat Tindak Pidana Narkoba Bareskrim Polri awalnya membongkar pabrik rumahan yang memproduksi obat keras ilegal di wilayah Kasihan Bantul, Yogyakarta, Selasa (21/9/2021). Sehari kemudian, polisi kembali menggerebek pabrik serupa di Jalan Siliwangi, Gamping, Sleman, Yogyakarta. Sebanyak 15 orang termasuk pemilik pabrik ditangkap.

Baca Juga  Subsay, Kampung di Dataran Warmare yang Layak Dimekarkan

Selain itu, penyidik juga menyita barang bukti 30.345.000 butir obat keras yang dikemas menjadi 1.200 colli paket dus, sembilan mesin cetak pil Hexymer, DMP dan Doubel L, lima mesin oven obat, dua mesin pewarna obat, satu mesin cording atau printing untuk pencetak, 300 sak lactose dengan berat total sekitar 800 kg, 100 kg adonan bahan pembuatan obat keras, 500 kardus warna coklat, dan 500 botol kosong tempat penyimpanan obat keras.

Baca Juga  KSPSI dan Polri Terus Genjot Vaksinasi Covid-19 Bagi Para Buruh

Akibat perbuatannya, para tersangka dijerat Pasal 60 Undang-Undang Nomor 11 Tahun 2020 tentang Cipta Kerja atas perubahan Pasal 197 UU Nomor 36 Tahun 2009 tentang Kesehatan subsider Pasal 196 dan atau Pasal 198 UU Nomor 36 Tahun 2009 tentang Kesehatan juncto Pasal 55 KUHP, dengan ancaman hukuman 15 tahun penjara dan denda Rp 1,5 miliar. Kemudian, Pasal 60 UU Nomor 5 Tahun 1997 tentang Psikotropika dengan ancaman hukuman 15 tahun penjara dan denda Rp 200 juta. (*/cr2)

Sumber: beritasatu.com

News Feed