oleh

BNN Ganteng PT Bintang Toedjoe Gelar Pelatihan Budi Daya Jahe untuk Masyarakat di Wilayah Rawan Narkoba

Badan Narkotika Nasional (BNN) Republik Indonesia menggandeng PT Bintang Toedjoe menggelar pelatihan budi daya jahe merah untuk masyarakat di wilayah rawan narkoba di Balai RW 04, Kecamatan Kalibanteng Kulon, Semarang, Rabu (25/8/2021).

Menurut Direktur Pemberdayaan Alternatif BNN RI Teguh Iman Wahyudi, pelatihan tersebut merupakan bentuk tanggung jawab sosial perusahaan untuk turut berkontribusi dalam pencegahan dan pemberantasan penyalahgunaan dan peredaran gelap narkotika (P4GN).

Baca Juga  “Peringatan Haul 100 Tahun HM. Soeharto” Pesan dan Jasanya yang Selalu Diingat Umat Islam

“Program pelatihan ini menjadi terobosan dalam upaya pemulihan kawasan rawan narkoba agar berdaya guna dan berhasil guna sehingga menjadi kawasan yang lebih produktif. Kerja sama BNN RI dengan PT Bintang Toedjoe sudah dilaksanakan di sembilan provinsi (Aceh, Sumatera Utara, Sumatera Selatan, Jawa Barat, Jawa Timur, DKI Jakarta, Kalimantan Selatan, NTT dan Sulawesi Selatan) dengan sasaran 900 peserta,” kata Teguh Iman Wahyudi.

Baca Juga  Kepala BNPB Tinjau Lokasi Longsor Di Majene, Sulawesi Barat

Kepala Dinas Pertanian Kota Semarang, Hernowo Budi Luhur, bersyukur dan bangga dengan hadirnya BNN, di samping memerangi narkoba juga memberdayakan masyarakat, khususnya di kawasan rawan narkoba.

“Pelatihan budi daya jahe merah ternyata seiring dengan visi misi wali kota Semarang. Beliau menginginkan Semarang bisa kembali menjadi primadona penghasil biofarmaka utama karena wilayah ini pernah menjadi penghasil empon-empon yang diperhitungkan kualitasnya,” katanya.

Baca Juga  Menteri Agama Hadiri Natal Virtual di Amerika Serikat, Tegaskan Pesan Persatuan

Pada pelatihan budi daya jahe merah, peserta akan menerima bantuan cuma-cuma dari PT Bintang Toedjoe berupa bibit, pupuk, dan polybag. Satu polybag tanaman jahe merah yang telah berumur 8-9 bulan akan menghasilkan 3-4 kg. Satu kilogram jahe merah, jika dihitung harga jualnya di pasaran paling rendah dihargai Rp 40.000 per kilogram. (*/cr2)

Sumber: banten.siberindo.co

News Feed